• Tafsir
  • Aqidah
  • Hadits
  • Fiqh
  • Manhaj
  • Kitab
  • Nisa
  • Siroh
  • Tazkiyah
  • Kisah
  • Fawaid
  • Jejak Salaf
  • BHS

Home Kisah

Redaksi Majalah

  • Dewan Redaksi
  • Pengantar Redaksi
  • Surat Pembaca
  • Kios Majalah di kota anda

Produk Al Furqon

  • Gratis 1 Majalah Al Furqon
  • Langganan Majalah Al Furqon
  • 150 ribu dapat 50 eks edisi lama
  • Bundel Majalah

Menu

  • Home
  • Link
  • Buku Tamu
  • Download
  • About Us

Info Majalah

Banner

Pertanyaan dan Konsultasi

HP:   085 230 390 536

Fax: 031-3940347

Ruang Iklan

Herbal Reaksi Cepat

Hari Ini


Pengunjung

free hit counter
free hit counter
Majalah Al Furqon


Designed by:
SiteGround web hosting Joomla Templates
Kisah
Imam Syafii ngalap berkah di kuburan Imam Abu Hanifah

Sengketa tanah di area pemakaman Habib Hasan bin Muhammad al-Haddad alias Mbah Priok, di Jakarta Utara, (29 Robi’uts Tsani 1431), berubah menjadi pertikaian berdarah. Lebih dari seratus orang, baik dari warga maupun petugas Satpol PP dan Polisi mengalami luka-luka, bahkan ada beberapa yang tewas.

Konon pada abad ke-18, Mbah Priok dikenal sebagai penyebar ajaran agama Islam di Batavia. Sosoknya sangat dihormati. Hingga sekarang kuburannya pun kerap diziarahi. Tatkala tokoh yang mereka hormati diusik, kemarahan mereka laksana bensin yang tersulut percikan api, mudah terbakar.

Kita semua menyayangkan tragedi ini terjadi. Kita harus mengambil pelajaran agar peristiwa semisal tidak terulang kembali. Di antara pelajaran yang sangat penting sekali, bahwasannya sikap pengagungan kaum muslimin kepada kuburan yang dikeramatkan sedemikian kuatnya, sehingga mereka rela mengorbankan jiwa guna mempertahankannya. Bagaimanakah sebenarnya hukum ‘ngalap’ berkah dengan kuburan? Inilah yang akan kita bahas dalam kajian kita melalui rubrik Kisah Tak Nyata tentang Imam Syafi’i rohimahulloh.

 

 
Menghancurkan Berhala Keramat

Pada masa kekholifahan Umar bin Khoththob rodhliyallohu anhu , Islam masuk Palestina, Syiria dan sebagian besar wilayah Persia dan Mesir. Namun ketika itu tauhid yang murni belum tersebar merata. Di sebagian wilayah keislaman penduduknya masih terkotori dengan kesyirikan. Sebagai contoh, masih ada kaum muslimin yang mengagungkan kuburan pahlawan pejuang Islam.

Jika sebelum memeluk agama Islam mereka mengagungkan patung, berhala, pohon besar dan batu, setelah memeluk Islam mereka mengagungkan orang yang dikultuskan. Jika orang tersebut meninggal maka mereka bertabaruk (ngalap berkah) kepada peninggalannya, tempat wudhunya, tempat sholatnya, atau kuburannya.

Sampai sekarang kita masih mendapati kesalahan kaum muslimin terhadap kuburan.
Memang dari sebuah kuburan dapat muncul berbagai kemaksiatan kepada Alloh subhanahu wata'ala, bahkan sampai tingkat kesyirikan kepada-Nya. Meninggikan dan memperindah kuburan, membaca al-Qur’an di kuburan, sholat di kuburan dan berdo’a di sisinya, serta ritual-ritual lainnya. Kembali kita bertanya, apa bedanya meminta kepada penghuni kubur dengan beribadah kepada patung. Nas’alulloha al-afiyah.

Ada sebuah kisah shohih yang perlu kita ketahui. Kisah ini berhubungan dengan upaya penguasa menghilangkan kesyirikan. Kisah berikut adalah bukti nyata lemahnya tipu daya setan dan kemenangan bagi ahli tauhid. Semoga dapat menjadi ibroh bagi orang-orang yang merenunginya. Allohul-musta’an

 
Kisah tukang cerita danImam Yahya bin Main dan Imam Ahmad

Al Kisah
     Konon dikisahkan, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahulloh dan Yahya bin Ma’in rahimahulloh sholat di masjid Rushofah, tiba-tiba ada seorang tukang cerita yang berdiri selepas sholat, lalu ia berkata: “Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in, keduanya berkata: “Telah menceritakan kepada kami Abdurrozzaq dari Ma’mar dari Qotadah dari Anas bin Malik berkata: “Rosululloh shollallohu alahi wasallam bersabda: "Barang siapa yang mengatakan Laa Ilaaha Illalloh, maka Alloh akan menciptakan dari satu kalimat itu seekor burung yang paruhnya terbuat dari emas sedangkan bulunya dari batu permata …….., kemudian dia terus bercerita sampai sekitar dua puluh lembar. Maka Ahmad bin Hanbal rahimahulloh melihat Yahya bin Ma’in rahimahulloh, begitu pula Yahya bin Ma’in rahimahulloh melihat Ahmad bin Hanbal rahimahulloh, lalu berkata: “Engkau menceritakan kepadanya hadits itu? Ahmad berkata: “Demi Alloh, saya belum pernah mendengarnya kecuali saat ini.”

    Maka tatkala orang itu selesai bercerita serta mengambil upah dari pendengarnya dan di saat dia masih menunggu lainnya, ia dipanggil oleh Yahya bin Ma’in rahimahulloh. Ia pun bergegas datang karena menyangka akan diberi uang. Ternyata Yahya berkata kepadanya: “Saya Yahya bin Ma’in dan ini Ahmad bin Hanbal, kami tidak pernah mendengar hadits semacam yang engkau sebutkan tadi dari Rosululloh. Maka dia menjawab: “Saya sering mendengar bahwa Yahya bin Ma’in dan Ahmad bin Hanbal itu orang dungu, dan saya baru bisa memastikannya sekarang ini, seakan-akan tidak ada Yahya bin Ma’in dan Ahmad bin Hanbal kecuali kalian berdua. Saya telah menulis tujuh belas orang yang semuanya mengaku sebagai Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in.” Maka Imam Ahmad pun meletakkan kedua tangannya pada wajahnya dan berkata: “Biarkan dia pergi.” Akhirnya diapun pergi sambil seakan-akan mengejek keduanya.

 
Wafatnya Nabi Dawud

Setiap yang memiliki ruh pasti mengalami kematian. Demikianlah ketetapan Alloh subhanau wata'ala  hingga hari kiamat. Jika seseorang mengingat kematian maka sifat tamak urusan dunianya akan hilang, serta akan tergerak hatinya untuk beramal kebaikan sebagai bekal kehidupan setelahnya

Rosululloh shollallohu alaihi wassallam sering mengingatkan umatnya untuk selalu mengingat kematian, berziarah kubur dan muhasabah (menghitung) bekal yang dibawa untuk kehidupan setelah kematian.

Rosululloh shollallohu alaihi wassallam berkata: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan. Lalu para sahabat bertanya: (Wahai Rosululloh n) apakah pemutus kelezatan itu? Beliau menjawab: Kematian.” (HR. al-Baihaqi dalam Su’abul Iman: 7/354)

Dalam sabda beliau shollallohu alaihi wassallam yang lain: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan. Karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya tatkala sempit kecuali ia akan melapangkannya dan tidaklah seseorang mengingatnya tatkala lapang kecuali akan membuatnya sempit.” (HR. al-Baihaqi dalam Su’abul Iman: 7/354)
Berikut ini, kita akan tadabbur lil maut (mengingat kematian) yang terjadi pada nabi pilihan, yaitu Nabiyulloh Dawud alaihi salam. Beliau adalah seorang hamba Alloh subhanau wata'ala yang sholih, seorang raja besar serta pemimpin yang ditaati. Tatkala datang al-yakin (kematian), beliau merelakan semua kelezatan dan kesenangan hidup di dunia menuju sesuatu yang jauh lebih baik yaitu surga Alloh subhanau wata'ala. Bagaimana dengan kita…!!?. semoga kita senantiasa di beri taufiq oleh Alloh subhanau wata'ala. Wallohul Muwaffiq
 
AL KISAH

Al-Imam Ahmad rahimahulloh meriwayatkan dari sahabat Abu Huroiroh radhliyallohu anhu  bahwa Rosululloh shollallohu alaihi wassallam bersabda: “Nabi Dawud alaihi salam adalah seorang yang memiliki kecemburuan yang sangat besar. Jika dia pergi (safar) pintu-pintu rumahnya dikunci rapat. Tidak ada seorang pun yang datang (bertamu) kepada keluarganya kecuali bila dia telah pulang.

Pada suatu hari beliau keluar dan rumahnya pun dikunci. Maka istrinya tinggal dan menjaga rumah, tiba-tiba ada seorang laki-laki berdiri di dalam rumahnya. Maka sang istri berkata kepada orang-orang itu: 'Dari mana orang ini masuk ke dalam rumah padahal rumah terkunci? Demi Alloh, kamu akan ditangkap oleh Dawud.'

Setelah beberapa saat, pulanglah Dawud alaihi salam sementara laki-laki itu tetap berdiri di tengah rumah. Dawud alaihi salam bertanya: 'Siapa kamu?' Orang itu menjawab: 'Saya adalah orang yang tidak takut kepada raja dan tidak ada sesuatu pun yang dapat mencegahku.' Maka Dawud tersadar: 'Demi Alloh, engkau pasti Malaikat Maut. Selamat datang kepada perintah Alloh.' Maka Dawud berlari kecil di tempat di mana nyawanya akan dicabut dan ketika urusannya selesai matahari pun terbit.

Sulaiman alaihi salam berkata kepada burung: 'Naungilah Dawud.' Maka ia menaunginya sehingga di tempat itu bumi menjadi gelap. Sulaiman alaihi salam berkata kepadanya: 'Tariklah sayapmu satu persatu.' Abu Huroiroh a berkata bahwa Rosululloh shollallohu alaihi wassallam menunjukkan bagaimana burung itu melakukannya. Dan Utusan Alloh subhanau wata'ala (Dawud alaihi salam) pun diambil sementara pada hari itu yang lebih dominan memberi naungan adalah elang yang bersayap lebar.”

 

Oleh: Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf


AL-KISAH Dari Ibnu Abbas rodliyallohu anhu bahwasannya setelah Rosululloh shollallohu alaihi wassallam menerima wahyu di gua Hiro’, beliau tidak lagi melihat Jibril alahi salam beberapa lama. Beliau pun sangat sedih. Sesekali beliau berangkat ke bukit Tsabir dan kali lainnya ke gua Hiro’. Sampa-isampai beliau ingin bunuh diri dengan melemparkan dirinya dari atas bukit. Saat seperti itu terdengarlah suara dari langit, beliau pun pingsan saat mendengar suara tersebut, begitu siuman, beliau melihat ke atas. Ternyata di sana ada Jibril alahi salam yang sedang duduk bersila di atas kursi antara langit dan bumi seraya berkata: “Wahai Muhammad, engkau adalah benar-benar utusan Alloh dan saya adalah Jibril. Rosululloh shollallohu alaihi wassallam pun pergi dengan tenang, lalu setelah itu turunlah wahyu secara berurutan pada beliau.


DERAJAT KISAH INI
Kisah ini bathil.


TAKHRIJ KISAH INI
Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Thobaqot Kubro. Beliau berkata: “Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Umar berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibrohim bin Muhammad bin Abi Musa dari Dawud bin Hushoin dari Abu Ghothfan bin Thorif dari Ibnu Abbas lalu beliau menyebutkan kisah di atas.


SISI KELEMAHAN KISAH INI
Sisi kelemahan kisah ini dapat ditinjau dari dua sisi, yaitu sanad dan matan:


.........selanjutnya silahkan baca di Majalah Al Furqon halaman 63 edisi terbaru (99)

Info : 081332756071. Atau hubungi agen terdekat anda.

 
Abu Dzar Al Ghifari hidup, wafat

Kisah tak nyata

ABU DZAR AL-GHIFARI HIDUP, WAFAT DAN DIBANGKITKAN SEORANG DIRI

 

Oleh Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf

 

Abdulloh bin Mas’ud berkata: “Tatkala Rosululloh berjalan menuju Tabuk, ada seseorang yang senantiasa terlambat, lalu para sahabat berkata: 'Wahai Rosululloh, ada seseorang yang terlambat.' Maka beliau bersabda: 'Biarkan dia, jika dia membawa kebaikan, maka Alloh akan menjadikan dia menyusul kalian, dan jika bukan demikian maka Alloh telah melepaskan kalian dari kejelekannya.'


Maka tatkala unta Abu Dzar semakin lambat, ia mencelanya, dia pun mengambil barangbarangnya lalu memanggulnya dan berjalan mengikuti Rosululloh. Rosululloh pun istirahat di sebuah tempat, ternyata ada seseorang yang melihat seraya berkata: 'Ya Rosululloh, itu ada seseorang yang berjalan.' Rosululloh menjawab: 'Semoga dia Abu Dzar.' Tatkala para sahabat sudah mencermatinya, maka mereka mengatakan: 'Benar ya Rosululloh, dia memang AbuDzar.' Maka Rosululloh bersabda:
“Semoga Alloh merahmati Abu Dzar, dia berjalan sendiri, meninggal dunia sendiri dan dibangkitkan pun sendirian.”


Di akhir hayatnya, Abu Dzar tinggal di daerah Robdzah, dia berpesan kepada istri dan budaknya: “Apabila saya meninggal dunia maka kalian berdua mandikan aku dan kafanilah aku, lalu bawalah dan letakkan aku di tengah jalan, lalu kalau ada rombongan perjalanan pertama yang lewat maka katakanlah ini jenazahnya Abu Dzar.” Tatkala Abu Dzar meninggal dunia mereka pun melakukannya.


Lalu muncullah sebuah rombongan dan mereka tidak mengetahui keberadaannya sehingga hampir mereka menginjaknya. Ternyata itu ada rombongan Ibnu Mas’ud dari Kufah. Lalu mereka bertanya: 'Apa ini?' Dijawab: 'Jenazahnya Abu Dzar.' Maka Ibnu Mas’ud menangis dan berkata: 'Benarlah yang dikatakan Rosululloh: Semoga Alloh merahmati Abu Dzar, dia berjalan sendiri, meninggal dunia sendiri dan dibangkitkan pun sendirian.' Lalu beliau turun dan mengurus penguburan Abu Dzar, dan tatkala sampai di kota Madinah diberitahukan lah apa yang dilakukan oleh Ibnu Mas’ud tersebut kepada Utsman.'"


Derajat Kisah

Kisah ini lemah.


Takhrij Kisah 
Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dalam Siroh: 4/179, Ibnu Sa’d dalam Thobaqot beliau: 4/234, al-Hakim: 3/50 dari jalan Buroidah bin Sufyan al Aslami dari Muhammad bin Ka’b al-Qurodhi dari Abdulloh bin Mas’ud secara marfu’.


Sisi Kelemahan
Kelemahan kisah ini terdapat pada dua sisi: Pertama: Sanadnya mursal, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam adz-Dzahabi rahimahulloh saat membantah Imam al-Hakim dalam al-Mustadrok yang menyatakan bahwa sanad hadits ini shohih.


Syaikh al-Albani  berkata mengomentari ucapan Imam adz-Dzahabi ini: “Beliau mengisyaratkan bahwa cacatnya adalah terputus antara al-Qurozhi dengan Ibnu Mas’ud radliyallohu 'anhu. Hanya saja Imam al-Bu khori dalam Tarikh Kabir: 1/216 meriwayatkan dengan sanad shohih bahwa al-Qurozhi mendengar dari Ibnu Mas'ud.” Adapun yang lebih tepat tentang cacatnya hadits ini pada sisi kelemahan berikutnya. Kedua: Dalam sanadnya terdapat Buroidah, dan dia adalah perowi yang lemah. Imam al-Bukhori berkata: “Orang ini dipertanyakan.” ad-Daruquthni v berkata: “Hadistnya ditinggalkan.” al-Hafidz Ibnu Hajar setelah menyebutkan hadits ini dalam al-Ishobah mengatakan: “Sanadnya lemah.” (Lihat adh-Dho’ifah: 12/1/40/5531)


.... selanjutnya silahkan baca Majalah Al Furqon edisi 6 tahun ke 9 (Terbaru)

Info berlangganan: 081332756071

 

 


Edisi 2/3 Tahun Ke - 10 (106)

Jawa Rp. 12.000. Luar Jawa Rp. 13.000

Soaljawab

  • Keluarga Sakinah
  • Jual Beli
  • Seputar Masalah Sholat
  • Masalah Ghaib

situs ulama

  • Syaikh Abdul Aziz bin Baz
  • Syaikh Nashiruddin Al Albani
  • Syaikh Al Utsaimin
  • Syaikh Sholih Al Fauzan
  • Syaikh Rabi Al Madkhali

situs asatidz

  • Ustadz Abu Ubaidah As Sidawi
  • Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf

Link Web Islami

  • Maktabah Abu Muhammad
  • Jadwal Kajian Salaf
klik-anda-menuju-tasjilat alfurqon

Isi Majalah Al Furqon 106

Soal Jawab:

- Bila hari raya jatuh pada hari jum'at

- Wudhunya pemakai gigi palsu

- Membuat jamaah jum'at sendiri

Soal Jawab Muamalat:

- Batasan teras masjid

Manhaj:

- Fenomena ustadz palsu

- Kaidah-kaidah seputar fatwa

Atsar:

- Katakan "Allohu A'lam" kalau  tidak tahu

Aqidah:

- Sumpah dgn selain Alloh

Fatawa Syafi'iyah:

- Mengenal Imam Syafii lebih dekat

Ekonomi Islam:

- Umat Islam berniaga mengapa tidak?

Tazkiyatus Nufus:

- Sholat malam hukum dan adabnya

Kitab:

- Studi kritis buku ESQ

- Takfir pemikiran khowarij gaya baru

- Jangan gegabah memvonis kafir

Jejak Salafush Sholih

- Abu Bakar Ash-Shiddiqul Akbar

Bahasa Arab:

- Bab ketiga: Fi'il ditinjau penyusunannya

Nisa:

- Hukum seputar kholwat

Tafsir:

- Meraih hikmah puasa dgn ilmu dan amal

Fiqh:

- Kaidah fiqh seputar puasa

- Masalah kontemporer seputar puasa

- Pembatal puasa di zaman modern

Sunnah dan Bid'ah:

- Sholat hari raya di tanah lapang

Khutbah Idul Fithri:

- Arti sebuah kedamaian

Penunjuk Arah Kiblat

, Powered by Joomla! and designed by abu muhammad web hosting

valid xhtml valid css