• Tafsir
  • Aqidah
  • Hadits
  • Fiqh
  • Manhaj
  • Kitab
  • Nisa
  • Siroh
  • Tazkiyah
  • Kisah
  • Fawaid
  • Jejak Salaf
  • BHS

Home Tafsir

Redaksi Majalah

  • Dewan Redaksi
  • Pengantar Redaksi
  • Surat Pembaca
  • Kios Majalah di kota anda

Produk Al Furqon

  • Gratis 1 Majalah Al Furqon
  • Langganan Majalah Al Furqon
  • 150 ribu dapat 50 eks edisi lama
  • Bundel Majalah

Menu

  • Home
  • Link
  • Buku Tamu
  • Download
  • About Us

Info Majalah

Banner

Pertanyaan dan Konsultasi

HP:   085 230 390 536

Fax: 031-3940347

Ruang Iklan

Herbal Reaksi Cepat

Hari Ini


Pengunjung

free hit counter
free hit counter
Majalah Al Furqon


Designed by:
SiteGround web hosting Joomla Templates
Tafsir Ayat Al Qur'an
Meraih hikmah puasa dengan ilmu dan amal
Oleh: Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron

Makna Ayat Secara Umum

Syaikh Abdurrohman bin Nashir as-Sa’di v
berkata: “Alloh w memberitahukan karunia-Nya
kepada hamba-Nya, bahwa Alloh w mewajibkan
mereka berpuasa sebagaimana umat sebelumnya,
karena puasa bagian dari syari’at dan perintah-Nya
yang pasti membawa kebaikan bagi manusia setiap
saat, di antaranya membangkitkan semangat umat
agar berlomba-lomba menyempurnakan amal dan
bersegera menuju kepada perangai yang mulia,
karena puasa bukan perkara yang berat dikerjakan.
Lalu Alloh w menjelaskan hikmat disyari’atkan
puasa yaitu agar kamu bertaqwa. Ketahuilah bahwa
puasa termasuk penyebab yang paling besar menuju
kepada taqwa, karena puasa melaksanakan perintah
dan meninggalkan larangan-Nya. Di antara
terwujudnya taqwa bahwa orang yang berpuasa
dia meninggalkan perkara yang dilarang oleh Alloh
w seperti makan, minum, berkumpul dengan istri,
dan lainnya, padahal perkara yang dilarang ini
disukai oleh hawa nafsu, dia mau meninggalkannya
karena dia mendekatkan diri kepada Alloh
w dan mengharapkan pahala-Nya. Inilah bagian
dari taqwa, orang yang berpuasa melatih dirinya
merasa diawasi oleh Alloh w sehingga dia meninggalkan
apa yang disenangi oleh hawa nafsunya.
Puasa mempersempit jalannya setan masuk ke tubuh
manusia, karena setan masuk ke tubuh manusia
melewati peredaran darah, maka puasa berarti
melemahkan (upaya) setan menerobos tubuh manusia,
sehingga sedikit sekali dia berbuat maksiat.
Puasa pada umumnya memperbanyak ketaatan
kepada Alloh w, sedangkan taat bagian dari perangai
taqwa. Dengan puasa, orang yang kaya bila dia
merasakan sakit karena lapar maka akan (timbul
perasaan) belas kasihan kepada orang miskin; dan
ini adalah bagian taqwa.”
Syaikh Abdurrohman bin Nashir as-Sa’di rohimahulloh berkata: “Alloh subhanahu wata'ala memberitahukan karunia-Nya kepada hamba-Nya, bahwa Alloh  mewajibkan mereka  berpuasa sebagaimana umat sebelumnya, karena puasa bagian dari syari’at dan perintah-Nya yang pasti membawa kebaikan bagi manusia setiap saat, di antaranya membangkitkan semangat umat agar berlomba-lomba menyempurnakan amal dan bersegera menuju kepada perangai yang mulia, karena puasa bukan perkara yang berat dikerjakan. Lalu Alloh  subhanahu wata'ala menjelaskan hikmat disyari’atkan puasa yaitu agar kamu bertaqwa.
Ketahuilah bahwa puasa termasuk penyebab yang paling besar menuju kepada taqwa, karena puasa melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Di antara terwujudnya taqwa bahwa orang yang berpuasa dia meninggalkan perkara yang dilarang oleh Alloh seperti makan, minum, berkumpul dengan istri, dan lainnya, padahal perkara yang dilarang ini disukai oleh hawa nafsu, dia mau meninggalkannya karena dia mendekatkan diri kepada Alloh dan mengharapkan pahala-Nya. Inilah bagian dari taqwa, orang yang berpuasa melatih dirinya merasa diawasi oleh Alloh sehingga dia meninggalkan apa yang disenangi oleh hawa nafsunya.
 
Marilah menutut ilmu

Makna Ayat Secara Umum

Imam asy-Syaukani rohimahulloh berkata: “Alloh  mengangkat derajat orang yang beriman dan tidak mengangkat derajat orang kafir. Alloh  melebihkan derajat orang yang berilmu dan orang yang beriman. Barang siapa beriman dan berilmu, niscaya Alloh subhanahu wataala mengangkat derajatnya dengan imannya dan mengangkat derajatnya dengan ilmunya.”

Makna Ilmu

Ilmu menurut bahasa seperti yang dijelaskan oleh al-Allamah ar-Roghib al-Ashfahani ialah pengetahuan terhadap sesuatu, dan itu ada dua macam:

Pertama: Mengetahui wujudnya sesuatu (baca surat al-Anfal [8]: 60).  Fathul Qodir 7/175

Kedua: Menghukumi sesuatu itu ada atau tidak ada (baca surat al-Mumtahanah [60]: 10).

Adapun menurut istilah syar’i seperti yang dikatakan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar, ilmu ialah ilmu syari’at Islam yang menjelaskan kepada setiap mukallaf tentang urusan agamanya baik yang berkenaan dengan ibadahnya dan mu’amalahnya, dan ilmu yang berkenaan dengan Alloh dan sifat-sifat- Nya, dan perkara yang wajib dikerjakan. Adapun pengetahuan tentang itu semua hanya didapati di dalam kitab tafsir, hadits, dan fiqih.

 

 
Menangis dan Tertawa Menurut Sunnah

Pengantar Redaksi:

Isak tangis orang dewasa tidaklah sama dengan tangisan anak kecil. Menangis bukanlah aib, bukan pula pintu kesengsaraan. Terkadang tangisan dapat menghidupkan hati, menghapus kesalahan dan mendatangkan ampunan ar-Rohman.

Dan jangan dikira tertawa atau menertawakan sesuatu adalah hal yang sepele. Apalagi yang menjadi bahan lelucon adalah syari'at Islam yang mulia.

Dalam Islam, tertawa dan menangis ada rambu-rambu syar'inya, namun masih banyak saudara kita belum mengetahuinya. Benarlah bahwa hal-hal yang dianggap remeh oleh sebagian kalangan ternyata jika dikaji secara rinci merupakan hal yang perlu diwaspadai.

 
Tafsir Surat Al Ahzab ayat 58

Muqoddimah
Menyakiti orang yang beriman sekarang ini telah menjadi hal yang lumrah. Bentuknya sangat beragam. Terkadang sekadar menyakiti fisik, namun tidak jarang sampai melukai kehormatan seorang muslim dan agama Islam.

Kalimat ini bukanlah mengada-ada. Fakta di lapangan adalah saksinya. Lalu siapa pelakunya? Ternyata bukan hanya orang kafir, sesama muslim pun terkadang saling mendholimi. Apa upaya kita agar tidak menyakiti saudara kita sesama muslim, dan apa yang kita lakukan jika didholimi? Ikutilah kajian ilmiah berikut ini.

 
More Articles...
  • Rubrik Tafsir Majalah Al Furqon
  • Kunci-kunci rezeki dalam perspektif syariat Islam
  • Menggalang persatuan mewaspadai perpecahan
  • Mereka-reka HARI KIAMAT
  • Mayoritas Standar Kebenaran?
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>

Page 1 of 2

Edisi 2/3 Tahun Ke - 10 (106)

Jawa Rp. 12.000. Luar Jawa Rp. 13.000

Soaljawab

  • Keluarga Sakinah
  • Jual Beli
  • Seputar Masalah Sholat
  • Masalah Ghaib

situs ulama

  • Syaikh Abdul Aziz bin Baz
  • Syaikh Nashiruddin Al Albani
  • Syaikh Al Utsaimin
  • Syaikh Sholih Al Fauzan
  • Syaikh Rabi Al Madkhali

situs asatidz

  • Ustadz Abu Ubaidah As Sidawi
  • Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf

Link Web Islami

  • Maktabah Abu Muhammad
  • Jadwal Kajian Salaf
klik-anda-menuju-tasjilat alfurqon

Isi Majalah Al Furqon 106

Soal Jawab:

- Bila hari raya jatuh pada hari jum'at

- Wudhunya pemakai gigi palsu

- Membuat jamaah jum'at sendiri

Soal Jawab Muamalat:

- Batasan teras masjid

Manhaj:

- Fenomena ustadz palsu

- Kaidah-kaidah seputar fatwa

Atsar:

- Katakan "Allohu A'lam" kalau  tidak tahu

Aqidah:

- Sumpah dgn selain Alloh

Fatawa Syafi'iyah:

- Mengenal Imam Syafii lebih dekat

Ekonomi Islam:

- Umat Islam berniaga mengapa tidak?

Tazkiyatus Nufus:

- Sholat malam hukum dan adabnya

Kitab:

- Studi kritis buku ESQ

- Takfir pemikiran khowarij gaya baru

- Jangan gegabah memvonis kafir

Jejak Salafush Sholih

- Abu Bakar Ash-Shiddiqul Akbar

Bahasa Arab:

- Bab ketiga: Fi'il ditinjau penyusunannya

Nisa:

- Hukum seputar kholwat

Tafsir:

- Meraih hikmah puasa dgn ilmu dan amal

Fiqh:

- Kaidah fiqh seputar puasa

- Masalah kontemporer seputar puasa

- Pembatal puasa di zaman modern

Sunnah dan Bid'ah:

- Sholat hari raya di tanah lapang

Khutbah Idul Fithri:

- Arti sebuah kedamaian

Penunjuk Arah Kiblat

, Powered by Joomla! and designed by abu muhammad web hosting

valid xhtml valid css